Aku hanya ingin memperjuangkan apa yang pantas untuk diperjuangkan! Menurutku kamu, iya kamu! Kamu adalah seseorang yang pantas aku perjuangkan.
'' Ku tahu, ku bukanlah yang kau harapkan. Harus kau sadari bahwa kaulah yang ku harapkan, sepi hati ini terasa sakit yang ku rasakan, ku bahagia melihat kau bersama dirinya. Ku disini selalu menanti dirimu, walau ku tau semua ini hanya mimpi. Jangan biarkan aku pergi, beri ku waktu tuk menanti. Sampai kau mengerti ku takan lelah menanti dirimu, akan ku buat kau bahagia. Berikan aku senyum indah karna ku berjanji takan ada lagi Air Mata. ''
Kabarmu yang hanya kucuri-curi melalui akun Twitter, beritamu hanya ku dengar dari hasil bertanya kesana-kesini. Jujur, kalau kamu mau tahu, aku tersiksa beberapa minggu ini. Terutama jika aku bertemu denganmu, ketika menerima kenyataan bahwa kita telah berbeda. Kita bertemu setiap hari, setiap hari juga ku lihat sosokmu yang tak bisa ku sentuh itu, setiap hari juga aku terus bisu-berusaha tak bertanya soal perubahan sikapmu yang membuatku hampir meledak karena tak kunjung mengerti pikiranmu.
Apa yang bisa kulakukan agar aku tetap bertahan? Kularikan rasa rinduku kedalam tulisan. Disana aku bisa menangis pilu tanpa mebuat tuli telingamu. Aku rindu kamu! Kalau aku punya keberanian lebih, rasanya aku ingin bertanya sesuatu padamu. Seberapa butakah matamu sehingga kau tak melihat perhatianku? Seberapa matinya perasaanmu hingga kau tak sadar ada yang berjuang untukmu? Hmm ....
Saat menulis ini, aku habis memerhatikan kicauanmu bersama seseorang yang tak ku kenal. Seseorang yang tampak mesra denganmu itu, dalam tutur kata, entah dalam dunia nyata. Aku menebak-nebak dan karena teka-teki itulah aku jadi terluka parah. Seharusnya tak ku ikuti rasa keingintahuanku ini, tak perlu lagi kucari-cari kabarmu dari dunia maya dan dunia nyata, tempat segala kemesraan bisa terjalin tanpa kutahu; itu nyata atau drama belaka.
Begitu cepat kau dapatkan yang baru, Sayang. Sementara disini aku, aku masih menunggu kamu pulang. Hampir setiap malam atau bahkan setiap saat, aku masih merindukanmu. Mengingat betapa dulu kita pernah baik-baik saja. Aku pernah kamu bahagiakan, aku pernah kamu beri senyuman, aku pernah kamu buat tertawa, juga terluka. Pada pertemuan kita tiga minggu yang lalu, kamu menggenggam jemariku seakan memberitahu bahwa kamu tak ingin melepaskanku. Kamu menatap mataku sangat dalam bahkan tak menggubris handphone-mu yang penuh dengan message dan panggilan telfon. Saat itu, aku merasa begitu special, merasa begitu penting bagimu.
Jujur, aku belum bisa menerimamu menjauh tiba-tiba seperti itu. Mengapa aku tak bisa menerima secepat kamu menerima perpisahan kita? Karena kamu yang telah meninggalkanku terlebih dulu, menuduhku punya banyak orang yang kujadikan pelarian, mendakwa aku yang berhianat. Sayang, sungguh aku tak paham apa maumu. Apa matamu begitu buta untuk melihat bahwa dulu, waktu masih bersamamu, hanya kaulah satu-satunya yang aku perjuangkan dan aku harapkan? ...
Ingat, kamu pernah bilang bahwa kamu mencintai aku seutuhnya. Aku bersandar dibahumu, sementara tatapan matamu kembali sibuk dengan handphone kesayanganmu itu. Kamu merangkulku sambil jemari kirimu membalas message dari teman-temanmu. Kamu tahu apa yang kurasakan saat itu? Rasanya aku tak ingin kehilangan kamu, bahkan membayangkannya saja aku terlalu takut. Namun, aku tak sadar, justru ketika kita bisa begitu mesra, hari itu juga hari terakhir kita bertemu.
Sorenya, semua kebersamaan manis kita, yang ku inginkan bisa lebih lama itu, berakhir hanya dengan percakapan kita beberapa menit saja.
Jujur, aku belum bisa menerimamu menjauh tiba-tiba seperti itu. Mengapa aku tak bisa menerima secepat kamu menerima perpisahan kita? Karena kamu yang telah meninggalkanku terlebih dulu, menuduhku punya banyak orang yang kujadikan pelarian, mendakwa aku yang berhianat. Sayang, sungguh aku tak paham apa maumu. Apa matamu begitu buta untuk melihat bahwa dulu, waktu masih bersamamu, hanya kaulah satu-satunya yang aku perjuangkan dan aku harapkan? ...
Ingat, kamu pernah bilang bahwa kamu mencintai aku seutuhnya. Aku bersandar dibahumu, sementara tatapan matamu kembali sibuk dengan handphone kesayanganmu itu. Kamu merangkulku sambil jemari kirimu membalas message dari teman-temanmu. Kamu tahu apa yang kurasakan saat itu? Rasanya aku tak ingin kehilangan kamu, bahkan membayangkannya saja aku terlalu takut. Namun, aku tak sadar, justru ketika kita bisa begitu mesra, hari itu juga hari terakhir kita bertemu.
Sorenya, semua kebersamaan manis kita, yang ku inginkan bisa lebih lama itu, berakhir hanya dengan percakapan kita beberapa menit saja.
Kini, aku merindukanmu, Sayang! Pulanglah, aku menunggumu.
Aku bertahan untuk sesuatu yang memang sudah seharusnya aku perjuangkan. Yaitu kamu.