Jumat, 22 Januari 2016

AKU, KAMU DAN LP YANG BERUJUNG RASA



YOU!!

MAAF AKU SELALU CANGGUNG UNTUK MEMULAI SESUATU. AKU TAK PANDAI DALAM BERBICARA LANGSUNG DAN INI HANYA TULISAN YANG MUNGKIN AKAN MEMBUATMU TERTAWA KETIKA SEDANG MEMBACA TULISAN INI. AKU HANYA INGIN MENYAMPAIKAN APA YANG AKU RASAKAN HARI INI PADAMU. SEPERTI HARI-HARI SEBELUMNYA DAN AKAN SAMA UNTUK HARI-HARI KE DEPANNYA. AKU HARAP.

HEY, AKU INGIN BERCERITA, KAMU MAU DENGAR?

PAGI INI AKU BANGUN SAMBIL TERSENYUM, MEMBAYANGKAN KAMU BERADA DISAMPINGKU, MENGELUS RAMBUTKU DAN MENGUCAPKAN SELAMAT PAGI YANG MANIS DITELINGAKU. PERSIS SEPERTI DALAM MIMPIKU, AKU TERSENYUM MEMBUKA MATA DAN TERNYATA KAMU TIDAK ADA. AKU TERSENYUM LAGI, KALI INI SENYUM YANG HANYA AKU YANG TAU APA ARTINYA.

AKU MENARIK LAGI SELIMUT SAMPAI MENUTUPI SEBAGIAN WAJAHKU, BERUSAHA KEMBALI TERLELAP DAN MELANJUTKAN MIMPI INDAHKU TANPA HARUS ADA YANG MENGUSIK. SEPERTI SEKARANG, SINAR MATAHARI SEOLAH TIDAK BERSAHABAT PADAKU. IA MENYERUAK DARI BALIK GORDEN KAMAR KU, MENCOBA MENGGODAKU UNTUK TIDAK LAGI BERMIMPI TENTANGMU.


AKU TIDAK MAU, TENTU SAJA. KARNA HANYA DALAM MIMPI AKU DAPAT MELIHATMU BERSIKAP MANIS PADAKU. HANYA DALAM MIMPI AKU BISA MERASAKAN GENGGAMAN TANGANMU YANG KECIL ITU DAN HANYA DALAM MIMPI AKU DAPAT MERASAKAN HANGATNYA HEMBUSAN NAFASMU DISISI KANAN TELINGAKU. DAN ITU MANIS BUATKU, SANGAT.

TAPI SEKETIKA AKU TERSADAR. HARI INI MATAHARI MENGINGATKAN KU UNTUK BERTEMU DENGANMU DILP. AKU HARAP KITA AKAN BERTEMU DENGAN DUNIA YANG NYATA, YANG SETIAP HARI MENARIK BOLA MATAKU UNTUK MENGIKUTI KEMANA GERAK LANGKAHMU. MENERTAWAI SETIAP TINGKAHMU YANG SELALU LUCU DI MATAKU DAN MENANGKAP SETIAP TATAPAN MATAMU YANG MENYIRATKAN PERTANYAAN "SIAPA DIA?" PADAKU, LALU AKU AKAN MENUNDUK ATAU MELAKUKAN SESUATU SAMBIL MENAHAN SENYUM TERSIPUKU. AKU SUKA ITU..






DARI MAS BRADPIT UNTUK SESEORANG,
DAN AKU HARAP KITA AKAN BERTEMU HARI INI DILP.

LUFITUAEB EYBDOOG #Empat



 #LanjutandariceritaTiga #DanTungguCeritaSelanjutnya....


“Sudah sampai, cantik,” goda Daniel seraya menarik rem tangan mobilnya ketika sampai di sebrang sebuah restoran baru di dekat apartemen Kalibata City. 

“Oke, yuk turun.” Vira melepas seat belt, merapikan terusan merahnya sejenak, kemudian membuka pintu mobil dan melangkah keluar menghampiri Daniel yang sedang memencet tombol pengaman di kunci mobilnya.

Daniel tersenyum ketika Vira berdiri sejajar dengannya dan hendak menyebrang. Pria itu memperhatikan sejenak jemari tangan kanan Sina yang lentik, lalu tanpa merasa canggung, ia menggenggamnya. Vira sedikit kaget dengan perilaku Daniel tersebut, tetapi ia tidak menolak. Ini kan mau nyebrang, wajar aja kalo dia genggam tangan gue, pikir gadis itu. 

Mereka berdua pun menyebrang menuju restoran bertajuk eropa itu tanpa perasaan bersalah. Dan Vira tidak sadar, sebelum mereka berdua berjalan menyebrang, Aldi lewat di depan mereka dan melihatnya yang sedang dalam genggaman tangan orang lain.

Tidak lama kemudian, sekitar dua ratus meter dari jalanan itu, terdengar suara hantaman keras benda bertabrakan. Darah seseorang mengucur deras di permukaan aspal panas bercampur dengan kuah makanan dan nasi yang berceceran, kemudian terdengar suara seorang ibu-ibu tua yang berteriak histeris.

“TOLONG!” 

Di dalam restoran, sambil memperhatikan suasana dan menikmati obrolannya bersama Daniel. Tiba-tiba saja Vira tidak sengaja menyikut gelas jus stroberinya hingga pecah di lantai.

“Lo gak apa-apa?” tanya Daniel sambil mengusap lengan Vira setelah memanggil pelayan untuk merapikan pecahan gelas di lantai. 

Wajah Vira berubah pucat dan napsu makannya mendadak hilang menghilang. “Nggak apa-apa Niel, maaf ya. Gue ceroboh banget."


Lima hari sudah tidak terdapat kabar dari Aldi. Vira mulai cemas. Rasa bersalah menggelayuti pikirannya. Ia merasa bodoh sekali karena lupa mengabari Aldi berhari-hari sejak pergi bersama Daniel, dan justru giat bertukar kabar dengan pria itu. Kini, ia menatap layar ponselnya dengan bingung. Nomor Aldi tidak aktif.

Vira telah menelponnya berkali-kali. Gadis itu berpikir pasti Aldi marah dengannya. Sina ingin sekali pergi ke rumah Aldi. Tetapi niatnya itu segera diurungkan. Vira takut kehadirannya yang tiba-tiba menjadi masalah. Ia pasti ditanyai ini-itu oleh Aldi karena telah menghilang beberapa waktu, dan Vira pun tidak mempunyai jawaban tepat yang aman untuk dijelaskan. 

Pria mana yang tidak marah bila tau kekasihnya pergi bersama orang lain? Sudah begitu saling menggenggam tangan sepanjang jalan dan makan suap-suapan, atau malah bisa jadi lebih dari itu. Sebenarnya dalam beberapa waktu kemarin, Vira merasa bosan dengan Aldi yang terlalu sering menghubunginya dan datang ke kampusnya, meskipun untuk bertemu beberapa temannya. Vira merasa Aldi memonitorinya, dan itu tidak membuatnya nyaman. Sina tau maksud yang Aldi lakukan, tetapi ia tidak dapat menerimanya. Ia ingin memiliki waktu sendiri, oleh karena itu dua minggu lalu ia pergi bersama teman-temannya, Adel, Fara, Fatma, Fatur, dan Shandya. Dan Adel lah yang mengenalkan Vira kepada Daniel. 

Lamunan Vira berhenti ketika ponselnya bergetar, sebuah notifikasi LINE dari Fatma muncul di layar ponsel. 

‘Lo udah putus sama Aldi? Cepet amat lo sama si Daniel.’ – Fatma Nur Dewi 

‘Belum, kenapa, Fat?’ – Vira Yanuar 

Seriusan? Kok lo nggak jenguk Aldi?”  – Fatma Nur Dewi 

Dia koma, kecelakaan empat hari yang lalu di deket KalCit‘ – Fatma Nur Dewi 

APA? ASTAGA… DI MANA RUMAH SAKITNYA?’ – Vira Yanuar 

SANTAI DONG! Makanya gue nanya sama lo, kirain udah putus. Gue lupa nama rumah sakitnya, yang jelas patokannya di dekat jalan gede Duren Tiga.’ – Fatma Nur Dewi 

Okay, makasih infonya, Fat. Gue ke sana sekarang juga.’- Vira Yanuar 

Vira memasukkan ponselnya dengan asal ke dalam tas selempang kecilnya, membuka pintu rumahnya dengan kasar, lalu berlari ke pinggir jalan di depan rumahnya untuk mencegat taksi.








***