#LanjutandariceritaDua #DanTungguCeritaSelanjutnya....
‘The number you are calling is not active or out of coverage area, please try again later.’
Rahang Aldi mengeras mendengar jawaban otomatis operator provider saat menelpon Vira. Sudah delapan kali ia mencoba menelpon gadis itu, tetapi tidak berhasil. Aldi melirik jam tangannya, pukul sepuluh pagi lewat tujuh belas menit. Tidak mungkin gadis itu belum bangun tidur karena Aldi tau, Vira selalu bangun pagi meski pada hari libur. Bila tidur pun biasanya ponselnya aktif.
Sepertinya Vira sedang berada di luar rumah dan ponselnya lowbatt sehingga ia mematikan ponselnya, tetapi Aldi tau gadis itu selalu membawa power bank. Atau justru Vira sengaja mematikan ponselnya? Entahlah, terlalu banyak kemungkinan yang ada. Dan Aldi berusaha membuang jauh-jauh pikiran buruk yang mulai datang. Ia merasa gadis itu menghindarinya akhir-akhir ini, namun sebabnya apa? Aldi merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
Setiap Minggu siang –sekitar pukul 11, Aldi selalu berkunjung ke rumah Vira sambil membawa bekal makanan untuk makan siang berdua karena orang tua gadis itu pergi mengurus bisnis mebel keluarganya di Bogor. Di rumah Vira tidak ada pembantu, itulah sebabnya Aldi berinisiatif membawa bekal makan siang untuknya agar gadis itu tidak lupa makan.
Aldi menimang-nimang ponselnya yang ia genggam di tangan kiri. Tangan kanannya menggenggam rantang susun perak yang berisi sup ayam, nasi putih, dan buah mangga yang sudah ia siapkan sejak pukul sembilan. Aldi ragu antara tetap berangkat ke rumah Vira sekarang atau menunggu sampai gadis itu memberi kabar terlebih dahulu.
Sementara Aldi terduduk lesu di sofa teras rumahnya sambil menunggu mesin motor Beat hitam miliknya memanas, Vira sedang senyum-senyum sendiri menahan rasa tertariknya pada seorang pria tampan yang dikenalkan oleh salah satu temannya kemarin, yang menjemputnya lima menit lalu.
“Eh ini gak apa-apa, serius?” tanya pria itu ketika mobil yang dikendarainya berhenti di depan lampu traffic light bersama mobil lain, lalu melirik Vira yang sedang melihat pemandangan jalan di sampingnya dari balik jendela.
Vira mengalihkan pandangannya dan menggelengkan kepala sambil melihat sekilas tattoo bunga mawar di lengan kiri pria itu. “Gak kok, Niel. Kita kan cuma jalan biasa, makan siang bareng,” jawabnya santai.
Pria berambut mohawk bernama Daniel itu tersenyum tipis. “Okay, gue cuma mastiin aja. Siapa tau ada yang ngomel semisal kita jadi nggak biasa. Hahaha.” Ia terkekeh dan menatap Vira dari balik kacamata hitamnya. Namun gadis itu menanggapinya dengan senyum simpul.
“By the way, kita ke mana nih, Niel?” tanya Vira seraya mengaitkan poni rambutnya ke daun telinga.
“Kan kita abis jalan keliling galeri nih, pasti lo laper kan. Makan siang di resto baru di dekat apartemen Kalibata City aja gimana, Vir? Gue mau nyobain tempat itu, keliatannya enak.”
Vira berpikir sejenak, lokasi tujuan mereka makan siang itu sering dilalui Aldi setiap kali ke rumahnya.
“Lo nggak mau?” tanya Daniel sekali lagi sambil melihat mobil di depannya.
“Umm…, boleh deh. Siapa tau worth it buat dicoba, ” jawab Vira tanpa berpikir lagi, ia segera melupakan kemungkinan akan terlihat oleh Aldi.
“Then, we go…” Daniel menginjak pedal gas ketika lampu traffic light berubah hijau.
***