Siur angin malam ramah menyapa rambut ikal Aldi yang sedari tadi duduk di sofa teras rumahnya. Suara jangkrik mulai terdengar sahut menyahut dari balik pepohonan. Mata bulat Aldi memandang lurus gelapnya langit yang tak berbintang, tetapi sesekali ia menengok ponselnya yang tergeletak diam pada meja kaca di depannya dengan tatapan kosong. Aldi menggosok kedua telapak tangannya sambil menggigil kedinginan. Sudah dua jam yang lalu ia berada di situ tanpa melakukan hal lain.
“Nak, Mama perhatiin daritadi kamu kok bengong aja? Udah mau tengah malam lho ini,” ucap Bu Mila, Ibu Aldi, yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan wajah bingung.
Aldi menengok pelan ke arah ibunya. “Aku lagi nunggu, Mah.”
“Nunggu siapa?
Bola mata Aldi tertuju ke arah ponselnya, memberi isyarat kepada ibunya, lalu ia tersenyum getir.
“Pasti Sina,” tebak Bu Mila. Aldi mengangguk kecil. Wajahnya jelas memperlihatkan raut cemas dan takut secara bersamaan. Sejak pertama kali ia duduk di sofa, pikirannya tidak dapat teralihkan sama sekali dari Vira. Ia terus memikirkan keberadaan gadis itu. ‘Sedang apa? Di mana? Lagi sama siapa? Kenapa kamu gak ngabarin?’ Pertanyaan itu berbondong-bondong mengacaukan logika Aldi. Ia benar-benar tidak dapat berpikir jernih.
Bu Mila mengusap pelan punggung Aldi. “Mungkin dia sudah tidur. Kamu juga tidur gih…”
“Belum, tadi sore Vira bilang ke aku kalau dia bakal ngabarin sepulang dia jalan-jalan sama temannya. Aku gak bisa tidur tenang sebelum Vira ngabarin aku,” kata Aldi dengan nada lemah. Dadanya mulai terasa sakit dengan rindu yang ia tahan sejak semingu lalu, waktu terakhir ia bertemu dengan gadis itu.
“Ya siapa tau dia ketiduran, ini kan udah malam, Nak.” Bu Mila mencoba meyakinkan Aldi sambil mengusap rambut anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Aldi merasa sedikit lebih baik karena usapan itu, kemudian ia bersandar pada bahu ibunya.
Tangan kanan Aldi meraih ponsel dari meja, lalu ia mengecek semua akun sosial media milik Vira. Nihil. Gadis itu tidak mem-posting apapun semenjak sore tadi. Aldi mendesah berat dan menggeletakkan ponselnya dengan kasar ke meja.
“Lho, kamu kenapa?” Bu Mila sedikit kaget dengan suara ponsel Aldi yang bergeletak. Aldi tidak menjawab. Ia mengangkat kepala yang tertempel pada bahu ibunya dan merebahkan diri di sofa.
Bu Mila menggelengkan kepala melihat Aldi. Dari gelagatnya, ia tau pikiran Aldi pasti sedang kacau.
“Sudah Nak, nanti juga dia pasti mengabarimu,” katanya menenangkan. “Mamah buatkan susu panas ya? Biar pikiran kamu yang suntuk itu jadi encer.”
Firas menganggguk dan memijit pelan keningnya seraya mengerjapkan mata. “Boleh, makasih ya, Mah.”
Sepersekian detik kemudian, Bu Mila sudah menghilang ke dapur. Aldi masih duduk di posisinya sambil menatap layar ponsel yang menyala. Pikirannya menerawang entah ke mana.
Tiga menit kemudian Bu Mila kembali membawa nampan hitam yang terdapat satu gelas bening yang berisi susu cokelat panas, lalu meletakkannya di meja, sedikit berjarak dari ponsel Aldi.
“Nih susunya udah mama bikinin segera diminum dong,” ujar Bu Mila sambil tersenyum.
Sekali lagi Aldi mendesah. “Ya kali deh, Ma. Masih panas banget itu.”
“Kayak rasa khawatir ya,” celetuk Bu Mila spontan sembari terkekeh. Aldi terbatuk-batuk, tertohok mendengar celetukan itu.
Suasana di antara mereka berdua hening sesaat. Hanya suara jangkrik dan deru napas Aldi yang tidak tenang yang samar terdengar. Kemudian Bu Mila menatap hangat Aldi. Ia jadi teringat masa silamnya dulu.
“Aldi…” panggil Bu Mila sambil terus menatap Aldi yang kini sedang melamun.
“Iya, Mah?” Aldi menjawab tanpa menoleh sedikit pun.
“Kamu mau tau satu hal ndak tentang perempuan? Mama liat kamu yang sekarang jadi inget waktu zaman pacaran sama ayahmu dulu,” kata Bu Mila seraya tersenyum simpul. Aldi mengangguk dan menyeruput pelan susu panasnya, binar matanya yang redup berubah menyala, lalu ia mengubah posisi duduknya yang tadinya membungkuk menjadi tegap.
Bu Mila tersenyum sesaat sebelum mulai menjelaskan. Aldi memasang kedua telinganya baik-baik. Ibunya jarang berbicara hal-hal serius seperti ini.
“Perempuan itu seperti seekor burung, Nak. Kamu hanya perlu menjaga tujuan ke mana sayapnya terbang dan kedua kakinya mendarat. Jangan kekang ia di dalam sangkar, walaupun sangkar itu terbuat dari emas dan lengkap dengan segala kebutuhannya. Biarkan ia terbang bebas ke mana pun sesuka hati, asal kamu tetap menjaga raganya agar ndak hinggap di pohon yang salah,” jelas Bu Mila. Aldi terdiam, mencoba mencerna ucapan ibunya.
Kemudian, setelah melirik Aldi sekilas, Bu Mila melanjutkan. “Dulu waktu mama sama papamu pacaran, ya papamu persis seperti kamu. Sering banget khawatir kalau mama pergi sama teman-teman. Kadang papamu nelpon berkali-kali untuk nanyain kabar, sampai bikin mama kesal. Mama tau tujuan papamu itu baik, tetapi itu malah jadi menganggu. Akhirnya mama bilang ke papamu kalau mama ndak suka.
Papamu lalu bilang, ‘Ya abisnya kamu kalo pergi suka ngilang ndak ngasih kabar, aku kan khawatir kamu kenapa-kenapa dan ndak mau hal buruk terjadi’. Gitu katanya. Mama jelasin ke papamu caranya tuh ndak seperti itu. Mama ndak mau dilarang dan dikekang, karena masih pacaran. Alhasil, kami berdua diam-diaman berhari-hari. Akhirnya, mama ndak kuat juga, soalnya merasa aneh aja papamu yang penuh perhatian itu jadi pendiam. Mama mutusin ngehubungin papamu duluan, tapi ndak bisa. Eh, pas mama ke rumah papamu, ternyata dia sakit.
‘Kamu kok sakit ndak bilang ke aku?’ kata mama pas liat papamu tergetak lemas di tempat tidurnya. Dia jawab. ‘Aku nggak mau ganggu kamu kayak kemarin.’ Denger jawaban papamu seperti itu ya mama nangis denger jawaban papamu dan minta maaf. Mama jadi sadar betul kalau papamu tuh sayang banget sama mama, mikirin mama sampai sakit gitu.” Bu Mila menyeka air matanya sejenak, ia tidak menyangka kenangan lampau itu masih terasa berkesan di hatinya. Aldi melongo tidak percaya dengan cerita ibunya.
“Terus, terus gimana kelanjutannya?” tanya Aldi penasaran.
Ibunya menerawang kenangannya lagi, kali ini sambil menatap langit. “Ya kami baikan dan semakin saling memahami. Papamu sayang banget sama mama dulu. Meskipun mama ndak minta bantuan, papamu selalu bantuin. Nganterin mama ke mana pun kayak ojek pribadi. Masakin mama makanan. Dan nabungin uangnya buat ngasih kejutan-kejutan kecil untuk mama. Papamu itu sebetulnya orangnya romantis, Aldi. Sayang sekarang udah ndak lagi,” kata Bu Mila sambil tertawa kecil.
“Aku juga sebenarnya gitu sama Vira, Mah,” ucap Aldi jujur. Ia jadi teringat senyum gadis itu ketika ia berikan boneka Cow besar dua bulan lalu.
“Gitu gimana?”
“Ya, suka ngasih kejutan-kejutan kecil. Aku yang pengin belajar masak sama mama itu ya sebenarnya supaya bisa masakin makanan buat Vira.”
Bu Mila menggelengkan kepala dengan senyum lebar. “Kamu benar-benar foto kopian papamu, Nak.”
“Ya kan anaknya, pasti gak beda jauh lah.” Aldi nyengir, sedikit demi sedikit pikirannya mulai tenang.
“Tapi Ma, kalau aku biarkan aja dan dia tetep gak ngasih kabar gimana?”
“Dia ndak benar-benar sayang sama kamu. Jika dia sayang sama kamu, dia ndak akan bikin kamu khawatir. Sesibuk apapun, minimal dia mengabarimu meski singkat. Toh, jika butuh kamu, dia pasti ngabarin.”
Aldi termenung sesaat sebelum menghabiskan susunya yang hangat-hangat kuku dengan dua kali tegukan. Ia melirik lagi ke ponselnya. Layarnya tetap hitam. Tidak ada notifikasi pesan masuk. Rindu yang ia rasakan semakin bergejolak. Bu Mila hanya memperhatikan Aldi. Melihat anak lelaki semata wayangnya itu telah tumbuh dewasa.
“Assalamualaikuuuummm…” Suara berat seorang pria memecah keheningan di antara mereka. Pak Isman, ayah Aldi, tiba di teras rumah.
“Walaikumsalam…” jawab Aldi dan Bu Mila bersamaan. “Sini duduk Pak, gabung sama kita, anakmu lagi curhat tentang perempuan nih,” ajak Bu Mila dengan nada meledek. Aldi cemberut.
Setelah melepas kaus kaki dari sepatu pantofelnya yang sedikit kotor di bagian hak, Pak Isman meletakkan tasnya ke bagian sofa yang kosong, lalu duduk di antara Aldi dan Bu Mila.
“Jadi, udah sampai mana ceritanya?” tanya Pak Isman dengan senyum menggoda dan memegang pundak Aldi. Kumis tebalnya ikut bergerak mengikuti garis bibirnya. Lucu sekali sehingga membuat Bu Mila cekikikan.
“Itu loh, pas kamu dulu sakit gara-gara mikirin aku, Mas.” Bu Mila menoel lengan Pak Isman sambil tersenyum genit.
“Oh itu, ya.” Pak Isman berdeham seraya melirik ke arah bu Mila, “dulu papa pernah sakit saking seringnya mikirin mamamu ini, Di. Zaman kami masih pacaran, teman mamamu ini buaaanyak banget. Kadang papa bingung mau cemburuin yang mana. Hahaha.” Pak Isman tergelak, disusul Bu Mila yang juga tertawa.
Aldi ikut merasa geli melihat tingkah kedua orang tuanya. Namun di dalam hatinya, ia tetap tidak dapat mengusir kekhawatirannya terhadap Sina. Firas merasa ada yang tidak beres. Entah dari mana asalnya pikiran buruk itu datang. Baru kali ini ia merasakan perasaannya kacau sekali.
“Di, kamu kok malah jadi ngelamun?” Pak Isman menepuk Aldi, ia jelas menangkap kekhawatiran anaknya itu.
“Ngg… Nggak apa-apa, Pah,” jawab Aldi sambil tersenyum, tetapi senyumnya justru menunjukkan bahwa dirinya tidak baik-baik saja.
“Kalian pacaran baru empat bulan kan? Tapi kok kayak yang udah mau nikah aja. Biasa aja, Di.Kalem,” ucap Pak Isman dengan santai, namun tatapannya terhadap Aldi sangat serius.
“Kamu mesti tau, kita gak bisa memaksakan orang yang kita cintai untuk setia kepada kita. Kesetiaan itu lahir dari kesadaran diri untuk menjaga hatinya dan hati pasangannya. Nggak perlu kita paksa-paksa. Kan kamu tau segala sesuatu yang dipaksa itu nggak bagus. Begitu pun kesetiaan,” jelas Pak Isman, disusul dengan anggukan Bu Mila.
Memang benar. Benar sekali. Aldi pun membenarkan ucapan itu. Tetapi sayangnya, dalam sebuah hubungan, terkadang kita menuntut kesetiaan itu ketika merasa sudah benar dalam mencintai seseorang. Padahal, kesetiaan akan lahir dengan sendirinya. Semua berawal dari komitmen dan komunikasi yang berlangsung baik, yang menumbuhkan kepercayaan. Dari kepercayaan itu, terbitlah perlahan-lahan kenyamanan yang mengikat, yang membuat sepasang hati enggan untuk beranjak. Setia itu layaknya sebuah gembok yang mengunci dua hati. Dan satu hal yang paling terpenting, setia bukanlah kata yang etis untuk sering diucapkan, meski dipasangkan dengan janji. Karena kata setia akan kehilangan makna bila sering dijanjikan tanpa ada bukti nyata. Berakhir menjadi omong kosong belaka.
Aldi akhirnya beranjak dari posisi duduknya dan pamit kepada kedua orang tuanya untuk masuk kekamar. “Iya, makasih ya Pah, Mah, untuk nasihatnya.”
“Sebentar…” Pak Isman menahan pergelangan tangan Aldi, membuat langkah anak itu terhenti. Bu Mila memperhatikan suaminya itu, ia tau pasti akan ada kalimat ajaib yang akan dikeluarkannya.
“Ada apa, Pah?” Aldi memandang ayahnya yang sedang menatapnya dengan tatapan serius.
“Perempuan itu pada dasarnya senang dikejar, Di. Dan kita, sebagai pria, memang harus mengejarnya. Tetapi jangan berlari terlalu kencang, berjalanlah santai mengikuti arahnya. Karena ketika kamu berlari, ia justru merasa tidak nyaman dan menjauh. Atur langkahmu sebaik mungkin,” ujar Pak Isman seraya menepuk punggung Aldi. “Kamu sama seperti ayah dulu, semoga bernasib sama juga,” lanjutnya.
“Ya benar, kami suka dikejar, Nak.” Bu Mila menatap Pak Isman seraya tersenyum. Mereka berdua bertatapan sejenak, kemudian Bu Mila menambahkan. “Kalau pria yang mengejar kami memang serius berjuang, kami ndak akan membiarkannya berjalan tertatih-tatih, atau malah membuatnya mengemis. Karena cinta itu soal menerima, bila tidak bisa menerima pun ya disesuaikan, bukan berarti dipaksakan. Semua ada porsinya, Nak. Jangan lebih, pun jangan kurang. Tujuan memang satu, tetapi banyak arah yang bisa kamu lalui.”
Senyum Aldi mengembang. “Terima kasih sekali lagi, Ma, Pa.” Kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju kamar. Pak Isman dan Bu Mila saling bertatapan tanpa berbicara sepatah kata pun. Mereka berdua berharap Aldi tidak salah dalam mengambil langkah.
Sesampainya di kamar, Aldi mematikan lampu dan merenungi nasihat kedua orang tuanya berkali-kali sambil menatap langit-langit kamar. Dalam gelap yang ia lihat, muncul wajah Sina yang sedang tersenyum dari dalam benaknya. Sungguh, Aldi begitu merindukan senyum itu. Ia memandangi layar ponselnya yang belum terlepas dari genggamannya sekali lagi, untuk melihat fotonya bersama Vira. Kemudian Aldi pun tertidur karena dibuat menyerah oleh kedua matanya terasa begitu berat. Ia sangat lelah.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar