Sabtu, 30 Juli 2016

LUFITUAEB EYBDOOG #Enam

Tangis pilu para pelayat terdengar menyayat hati siapapun yang mendengar. Dari belakang kerumunan, empat orang menggotong jasad Aldi menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Vira hanya terdiam. Hatinya sudah terlalu lelah untuk merasa sakit. Matanya terasa sangat perih hingga ia menggunakan kacamata hitam agar orang-orang tidak melihat kantung matanya yang bengkak.

Lantunan ayat-ayat suci bergema seirama mengiringi jasad Aldi yang dikebumikan. Vira ternyata tidak sanggup menahan kesedihan yang bertamu lagi ke dalam hatinya. Ia terisak di balik kacamatanya. Di antara para pelayat yang kebanyakan teman-teman Aldi dan keluarganya, Pak Isman terlihat merangkul Bu Mila yang menutupi setengah wajahnya dengan syal hitam.
Setengah jam kemudian, para pelayat satu per satu meninggalkan makam Aldi . Bu Mila dan Pak Isman pamit pulang kepada Vira, dan menyarankannya untuk segera pulang.

“Vira, tante dan om pulang duluan ya, ndak baik sedih-sedihan di sini,” ucap Bu Mila sambil menggenggam tangan Pak Isman, ayah Aldi itu hanya melihat Vira dengan tatapan kosong. Seakan separuh nyawanya telah hilang seiring kepergian Aldi selamanya.

Vira mengangguk. “Iya, tante, om, silakan. Saya juga nanti segera pulang ke rumah. Saya masih pengin di sini nemenin Aldi.”

Bu Mila dan Pa Isman tersenyum. Sebelum meninggalkan Sina, Bu Mila memeluk gadis itu terlebih dahulu. Dalam pelukannya, ia berbisik. “Terima kasih ya, Sayang. Kamu ada di saat-saat terakhirnya. Aldi pasti bahagia di sana.” Setelah Bu Mila melepas pelukannya, Sina mencium tangan Bu Mila. Kemudian Bu Mila dan Pak Isman melangkah pergi.

Vira mengambil air bunga mawar dan taburan bunga yang tersisa dari dalam tasnya ketika sosok Bu Mila dan Pak Isman telah masuk ke dalam mobil.

Perlahan-lahan, Vira menyiram makam Aldi yang masih basah dengan air bunga mawar dan menaburinya dengan bunga berbagai macam warna. Vira merasa lupa terhadap sesuatu, lalu terdiam sebentar. Foto. Foto itu. Vira merogoh kantung kecil di dalam tasnya dan menatap nanar foto itu, lalu berjongkok di samping batu nisan Firas. Batu nisan hitam persegi yang bertuliskan nama ‘Aldi Adi Ismana’ dengan warna kuning terang.

“Sayang, maafin kesalahan aku ya. Aku baru sadar satu hal, ternyata aku cinta banget sama kamu,” ucap Sina pelan seraya mengusap papan nama Firas dan menatap lagi foto yang ia pegang.

“Penyesalan memang datang belakangan ya, Sayang. Aku baru ngerasainnya sekarang. Kenapa ya aku bodoh banget malah nyia-nyiain kamu?” Sina tertawa hambar karena ucapannya sendiri, lalu tersenyum getir meratapi batu nisan Aldi.

“Oh iya, kamu udah sampai di surga belum, Sayang? Kalau masih di sekitar sini, peluk aku dong sekalian ndusel deh. Kamu kan belum pernah ndusel sama aku,” lanjut Vira, ia mulai terisak pelan.”Aku kangen kamu, Aldi. Kangen berada di pelukan kamu, denger ocehan kamu yang bikin aku geregetan. Kangen kecupan kening kamu yang nenangin. Kangen semua tentang kamu.”

“Tiga belas bunga yang kamu kasih aku simpen di kamar, tapi ada satu bunga yang paling indah kelopaknya, aku suka, dan itu aku laminating buat dijadiin pembatas buku. Soalnya kamu kan nggak suka sama angka tiga belas

.” Vira tersenyum lebar dan mengusap air mata di pipinya sejenak, “gapapa kan, Sayang? Kamu nggak marah kan?”

“Nanti kalau kamu udah di surga nggak akan ngelupain aku kan? Nggak kan?” Tubuh Vira bergetar hebat di tengah monolognya dan ia hampir jatuh duduk, “soalnya di surga kan banyak bidadari yang cantiknya lebih dari aku. Mereka pun nggak suka ngilang kayak aku, pasti setia sama kamu. Tapi aku percaya kok kamu nggak selingkuhin aku. Soalnya cukup aku aja yang bodoh, kamu jangan.”
Vira menarik napas dengan susah payah karena sesak di dadanya terasa sangat perih setelah mengucap kalimat itu, kepalanya juga terasa pusing sekali.

Kesadarannya lamat-lamat menghilang di antara udara dingin cuaca mendung. Kemudian Sina melepas kacamatanya dan mendekatkan wajah ke batu nisan Aldi. Vira mengecup permukaannya pelan sambil terpejam dan merapal doa, sangat lembut. Seolah mengucap kening Aldi untuk terakhir kalinya. Tetesan air mata Vira yang deras berselancar dari pipinya satu per satu jatuh tepat di atas tulisan nama Aldi.



“Aku cinta kamu, Aldi. Terima kasih telah sangat mencintaiku.”







                                                                        -END-

Kamis, 10 Maret 2016

LUFITUAEB EYBDOOG #Lima

 #LanjutandariceritaEmpat #DanTungguCeritaSelanjutnya....






Kedua kaki Vira yang dibalut sepatu flat hitam melangkah terburu-buru memasuki rumah sakit setelah menyerahkan selembar uang lima puluh ribu untuk membayar argo taksi yang mengantarnya ke rumah sakit di daerah Pasar Minggu ini. Sesampainya di meja resepsionis, Sina bertanya di mana letak kamar Aldi kepada salah satu suster perempuan yang berjaga. Sesudah menyebutkan nama lengkap Aldi, Vira langsung melangkah lagi dengan setengah berlari menuju kamar Aldi yang terletak di ruang ICU.

Vira tiba di depan kamar Aldi dengan napas terengah-engah. Jantungnya berdebar kencang bukan main. Rasa bersalah, takut, khawatir, panik dan perasaan negatif lainnya bercampur menjadi satu. Gadis itu mencoba untuk menenangkan diri terlebih dahulu sebelum membuka pintu kamar Aldi. Namun ia tidak dapat menahan air matanya yang sudah turun deras menempel di pipinya. Vira terisak hebat hingga jatuh terduduk di lantai. Suasana sekitar ruangan sunyi, hanya udara dingin dengan bau obat menyengat yang menyambut kedatangannya.

Setelah dirasa sedikit tenang, Vira membuka gagang pintu kamar Aldi pelan-pelan dan memasukinya dengan hati-hati. Ketika di dalam, Vira melihat Bu Mila sedang tertidur di samping…, Vira hampir pingsan melihat sekujur tubuh Aldi terilit perban. Hatinya luluhlantak seketika mengetahui keadaan Aldi yang mengenaskan. Tubuhnya Vira hebat hingga ia harus berpegangan pada dinding kamar sebelum keseimbangan tubuhnya goyah. Tangisannya meledak hebat dari balik telapak tangannya yang menutupi wajah, hingga membuat Bu Mila terbangun.

“Vira?” tanya Bu Mila sambil mengerjapkan mata dan berdiri.

“I…, iya Tante…” Suara Vira terdengar tidak jelas tertutupi isakan tangisnya.

“Sini…, sini…, tenangin diri kamu dulu yuk di belakang,” ajak Bu Mila sambil merangkul Vira yang masih menangis.

Di belakang kamar Aldi, ada sebuah ruangan kecil yang terdapat sofa berukuran cukup besar berwarna cokelat, meja kayu di depannya, dan sebuah tempat tidur kecil dilengkapi satu bantal. Ruangan itu dipisahkan oleh dinding kaca yang berfungsi untuk mengedapkan suara pengunjung yang berbicara. Bu Mila dan Vira duduk di sofa itu bersampingan, dan mengusap punggung Vira dengan lembut agar gadis itu merasa tenang.

Isakan Vira mulai surut, ia mengusap wajahnya yang sembab dengan tisu yang tersedia di meja. Sambil melihat Aldi dari balik kaca, Aldi berkata, “Tante, Aldi kenapa?”

Bu Mila menarik napas panjang, lalu menggenggam tangan Vira. “Dia kecelakaan, ditabrak mobil pick up seminggu yang lalu, Vira. Beberapa tulang rusuk dan kaki kirinya patah serta mengalami pendarahan di beberapa bagian tubuhnya.”

“Kok bi…sa? Astagfirullah…” Vira memeluk erat Bu Mila sambil meraung pelan.

“Kita ndak pernah tau kapan musibah terjadi. Seinget tante, sebelum kecelakaan, dia pergi ke rumah kamu bawa bekal makan siang,” jelas Bu Mila, ia berusaha setenang mungkin menjelaskannya.

“…”

Sina menggelengkan kepala dengan keras mendengar penjelasan Bu Mila. Gadis itu menangis lagi, jauh lebih hebat dari sebelumnya. Ia merasakan rasa sakit yang teramat sangat menghujam hatinya bertubi-tubi. Vira merasa musibah ini terjadi akibat perbuatannya yang bodoh. Bersenang-senang dengan temannya hingga lupa mengabari kekasihnya berhari-hari, dan yang paling parah pergi bersama Daniel, yang jelas-jelas gelagatnya ingin menguasai hatinya.

Semua karena Vira menuruti egonya. Jelas, keinginan Aldi sederhana; hanya menginginkan kabar darinya. Aldi hanya ingin komunikasi yang baik dengan dirinya saat sedang tidak bersama. Tidak lebih dari itu. Semudah itu ia menghancurkan kepercayaan Aldi? Vira merasa tolol sekali.
Pandangan mata Vira memburam karena air matanya tidak berhenti turun. Ia melihat Aldi dari balik kaca ruangan ini. Pasti ia merasa sangat menderita dengan rasa sakitnya.

“Sabar, ya Vira. Aldi pasti sembuh kok,” ucap Bu Mila sambil terus mengusap punggung Vira.

“Aldi sempat siuman dan saat itu bilang ke tante, dia titip salam sama kamu ketika kamu ke sini. Aldi juga menulis sesuatu, tante ndak ngerti itu apa, dan ia pun menyembunyikannya.”

“Al…, Aldi bilang apa tante?”

“Dia sayang banget sama kamu, maaf kalau dia bikin kamu kesal. Dia juga minta maaf karena tidak bisa mengantar bekal makan siang buat kamu pada hari itu.” Bu Mila menjelaskannya dengan suara bergetar. Ia pun akhirnya tidak dapat menahan tangisnya.

 “Aldi sayang banget sama kamu, Vira.”

“Aldi nggak bisa tidur ketika kamu nggak ngabarin dia, Vira. Dia minta diajarin masak sampai tangannya berkali-kali kena pisau saat memotong dan terciprat minyak panas. Dia bangun pagi nemenin tante belanja dan ternyata masakan yang dia buat itu untuk kamu.” Bu Mila menarik napas panjang sambil memeluk Vira.

Vira mendengar penjelasan itu dengan kalut. Napasnya sesak, rasanya ia lupa cara bernapas. Dadanya bagai terhimpit batu raksasa. Potongan demi potongan kenangan berkelebatan di ingatannya. Ketika Aldi mengantar Vira pulang ke rumahnya dari kampus saat hujan deras dengan satu jas yang Sina gunakan. Saat Aldi datang menemui Vira di kampusnya secara tiba-tiba sambil membawa seikat bunga setiap kali moodnya sedang rusak. Ketika Aldi pagi-pagi buta datang ke rumahnya hanya untuk mengantarkan sebuah boneka Tedy Bear sebagai hadiah hari jadi yang kedua bulan. Hal-hal kecil lainnya yang Aldi lakukan serta berikan untuk Vira. Semuanya karena Aldi begitu mencintainya.

Tidak dapat terbantahkan lagi, Vira mengamuki kebodohannya dan benar-benar menyesali perbuatannya telah menyia-nyiakan cinta Aldi yang begitu besar, lalu malah mengkhianatinya.

Akhirnya, setelah sama-sama lelah menangis, Vira meminta maaf kepada Bu Mila karena telah mendiamkan Aldi. Saat mereka berpelukan, tiba-tiba saja sebuah lampu merah di dinding berkedip. Bu Mila langsung melepas pelukannya dan menghampiri Aldi, lalu memencet tombol pemanggil dokter yang terdapat di samping tempat tidur anaknya.

Vira menutup wajahnya saat melihat detak jantung Aldi yang melemah di sebuah monitor. Garis naik turun yang terpampang di layar semakin rendah. Vira langsung menggenggam tangan Aldi sambil berdoa. Beberapa saat kemudian seorang dokter pria dan dua suster wanita masuk ke dalam kamar Aldi. Sekali lagi, perasaan Vira dibuat hancur ketika melihat mendapati wajah Aldi menjadi pucat. Vira kalap dan terisak hebat memanggil Aldi berkali-kali.

Ketika dokter menggosok sepasang alat kejut jantung berbentuk seperti setrika dan meletakkan ke dada Aldi, samar-samar terlihat mata Aldi mengeluarkan air mata. Vira jelas melihatnya. Kemudian terdengar bunyi yang memekakkan telinga dari alat itu, yang kemudian mencabik habis hati Vira. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Vira merasakan sakit yang begitu luar biasa hebat, membuatnya merasakan mati dalam keadaan hidup. Bola matanya yang mulai lelah menangis seolah ingin membutakan diri karena tidak kuat melihat apa yang terjadi di hadapannya.

Dua suster yang berdiri di samping dokter kemudian mengusap punggung Vira dan Bu Mila, menguatkan mereka berdua untuk menghadapi kemungkinan yang paling terburuk terjadi dalam hitungan mundur. Setelah itu, berbagai alat kedokteran seperti selang dan jarum satu per satu mulai dijejali ke tubuh Firas demi membuat nyawanya tetap pada raganya. Vira menggenggam tangan Aldi dengan kencang. Entah kenapa ia merasakan ada cengkraman kuat dari tangan Aldi yang sedang ia genggam. Seolah-olah, kekasihnya itu tidak ingin meninggalkan Vira.

Namun takdir berkata lain, mulut Vira yang terus menerus memanggil nama Aldi dan mengiba pada rapalan doa tidak bisa membuat takdir berbelas kasih. Suara Vira yang semakin lirih terdengar melacurkan harapannya yang terus meminta kepada Tuhan agar Aldi diberi kesempatan untuk hidup lebih lama. Agar Vira sempat mengucapkan permintaan maafnya. Agar Vira dapat menjelaskan betapa ia mencintai Aldi.

Tetapi semua yang Vira lakukan tetap melahirkan kenyataan yang lain. Dokter yang sudah berusaha semaksimal mungkin pun ternyata tidak dapat mengubah keinginan Tuhan. Ia menundukkan kepala dan menyeka air matanya, kemudian meminta maaf kepada Bu Mila dan Pak Isman yang baru saja datang, yang langsung menangis kencang sambil memegangi kaki Aldi.

Vira memeluk Aldi yang sudah pergi dengan tangisan tanpa suara. Gadis itu menggoyangkan tubuh Aldi, berharap dapat menarik kembali roh kekasihnya. Dan, ketika Vira sadar itu hal yang percuma, selembar foto terjatuh dari balik punggung Aldi ke lantai. Vira mengambil dan memeluk foto itu, foto yang mengabadikan senyum mereka berdua saat pertama kali berfoto bersama. Sejurus kemudian, seorang suster menarik selimut putih di ujung tempat tidur Aldi dan menutupi sekujurnya.
Tubuh Vira kehilangan keseimbangan dan semuanya berubah menjadi gelap.





***

Jumat, 22 Januari 2016

AKU, KAMU DAN LP YANG BERUJUNG RASA



YOU!!

MAAF AKU SELALU CANGGUNG UNTUK MEMULAI SESUATU. AKU TAK PANDAI DALAM BERBICARA LANGSUNG DAN INI HANYA TULISAN YANG MUNGKIN AKAN MEMBUATMU TERTAWA KETIKA SEDANG MEMBACA TULISAN INI. AKU HANYA INGIN MENYAMPAIKAN APA YANG AKU RASAKAN HARI INI PADAMU. SEPERTI HARI-HARI SEBELUMNYA DAN AKAN SAMA UNTUK HARI-HARI KE DEPANNYA. AKU HARAP.

HEY, AKU INGIN BERCERITA, KAMU MAU DENGAR?

PAGI INI AKU BANGUN SAMBIL TERSENYUM, MEMBAYANGKAN KAMU BERADA DISAMPINGKU, MENGELUS RAMBUTKU DAN MENGUCAPKAN SELAMAT PAGI YANG MANIS DITELINGAKU. PERSIS SEPERTI DALAM MIMPIKU, AKU TERSENYUM MEMBUKA MATA DAN TERNYATA KAMU TIDAK ADA. AKU TERSENYUM LAGI, KALI INI SENYUM YANG HANYA AKU YANG TAU APA ARTINYA.

AKU MENARIK LAGI SELIMUT SAMPAI MENUTUPI SEBAGIAN WAJAHKU, BERUSAHA KEMBALI TERLELAP DAN MELANJUTKAN MIMPI INDAHKU TANPA HARUS ADA YANG MENGUSIK. SEPERTI SEKARANG, SINAR MATAHARI SEOLAH TIDAK BERSAHABAT PADAKU. IA MENYERUAK DARI BALIK GORDEN KAMAR KU, MENCOBA MENGGODAKU UNTUK TIDAK LAGI BERMIMPI TENTANGMU.


AKU TIDAK MAU, TENTU SAJA. KARNA HANYA DALAM MIMPI AKU DAPAT MELIHATMU BERSIKAP MANIS PADAKU. HANYA DALAM MIMPI AKU BISA MERASAKAN GENGGAMAN TANGANMU YANG KECIL ITU DAN HANYA DALAM MIMPI AKU DAPAT MERASAKAN HANGATNYA HEMBUSAN NAFASMU DISISI KANAN TELINGAKU. DAN ITU MANIS BUATKU, SANGAT.

TAPI SEKETIKA AKU TERSADAR. HARI INI MATAHARI MENGINGATKAN KU UNTUK BERTEMU DENGANMU DILP. AKU HARAP KITA AKAN BERTEMU DENGAN DUNIA YANG NYATA, YANG SETIAP HARI MENARIK BOLA MATAKU UNTUK MENGIKUTI KEMANA GERAK LANGKAHMU. MENERTAWAI SETIAP TINGKAHMU YANG SELALU LUCU DI MATAKU DAN MENANGKAP SETIAP TATAPAN MATAMU YANG MENYIRATKAN PERTANYAAN "SIAPA DIA?" PADAKU, LALU AKU AKAN MENUNDUK ATAU MELAKUKAN SESUATU SAMBIL MENAHAN SENYUM TERSIPUKU. AKU SUKA ITU..






DARI MAS BRADPIT UNTUK SESEORANG,
DAN AKU HARAP KITA AKAN BERTEMU HARI INI DILP.

LUFITUAEB EYBDOOG #Empat



 #LanjutandariceritaTiga #DanTungguCeritaSelanjutnya....


“Sudah sampai, cantik,” goda Daniel seraya menarik rem tangan mobilnya ketika sampai di sebrang sebuah restoran baru di dekat apartemen Kalibata City. 

“Oke, yuk turun.” Vira melepas seat belt, merapikan terusan merahnya sejenak, kemudian membuka pintu mobil dan melangkah keluar menghampiri Daniel yang sedang memencet tombol pengaman di kunci mobilnya.

Daniel tersenyum ketika Vira berdiri sejajar dengannya dan hendak menyebrang. Pria itu memperhatikan sejenak jemari tangan kanan Sina yang lentik, lalu tanpa merasa canggung, ia menggenggamnya. Vira sedikit kaget dengan perilaku Daniel tersebut, tetapi ia tidak menolak. Ini kan mau nyebrang, wajar aja kalo dia genggam tangan gue, pikir gadis itu. 

Mereka berdua pun menyebrang menuju restoran bertajuk eropa itu tanpa perasaan bersalah. Dan Vira tidak sadar, sebelum mereka berdua berjalan menyebrang, Aldi lewat di depan mereka dan melihatnya yang sedang dalam genggaman tangan orang lain.

Tidak lama kemudian, sekitar dua ratus meter dari jalanan itu, terdengar suara hantaman keras benda bertabrakan. Darah seseorang mengucur deras di permukaan aspal panas bercampur dengan kuah makanan dan nasi yang berceceran, kemudian terdengar suara seorang ibu-ibu tua yang berteriak histeris.

“TOLONG!” 

Di dalam restoran, sambil memperhatikan suasana dan menikmati obrolannya bersama Daniel. Tiba-tiba saja Vira tidak sengaja menyikut gelas jus stroberinya hingga pecah di lantai.

“Lo gak apa-apa?” tanya Daniel sambil mengusap lengan Vira setelah memanggil pelayan untuk merapikan pecahan gelas di lantai. 

Wajah Vira berubah pucat dan napsu makannya mendadak hilang menghilang. “Nggak apa-apa Niel, maaf ya. Gue ceroboh banget."


Lima hari sudah tidak terdapat kabar dari Aldi. Vira mulai cemas. Rasa bersalah menggelayuti pikirannya. Ia merasa bodoh sekali karena lupa mengabari Aldi berhari-hari sejak pergi bersama Daniel, dan justru giat bertukar kabar dengan pria itu. Kini, ia menatap layar ponselnya dengan bingung. Nomor Aldi tidak aktif.

Vira telah menelponnya berkali-kali. Gadis itu berpikir pasti Aldi marah dengannya. Sina ingin sekali pergi ke rumah Aldi. Tetapi niatnya itu segera diurungkan. Vira takut kehadirannya yang tiba-tiba menjadi masalah. Ia pasti ditanyai ini-itu oleh Aldi karena telah menghilang beberapa waktu, dan Vira pun tidak mempunyai jawaban tepat yang aman untuk dijelaskan. 

Pria mana yang tidak marah bila tau kekasihnya pergi bersama orang lain? Sudah begitu saling menggenggam tangan sepanjang jalan dan makan suap-suapan, atau malah bisa jadi lebih dari itu. Sebenarnya dalam beberapa waktu kemarin, Vira merasa bosan dengan Aldi yang terlalu sering menghubunginya dan datang ke kampusnya, meskipun untuk bertemu beberapa temannya. Vira merasa Aldi memonitorinya, dan itu tidak membuatnya nyaman. Sina tau maksud yang Aldi lakukan, tetapi ia tidak dapat menerimanya. Ia ingin memiliki waktu sendiri, oleh karena itu dua minggu lalu ia pergi bersama teman-temannya, Adel, Fara, Fatma, Fatur, dan Shandya. Dan Adel lah yang mengenalkan Vira kepada Daniel. 

Lamunan Vira berhenti ketika ponselnya bergetar, sebuah notifikasi LINE dari Fatma muncul di layar ponsel. 

‘Lo udah putus sama Aldi? Cepet amat lo sama si Daniel.’ – Fatma Nur Dewi 

‘Belum, kenapa, Fat?’ – Vira Yanuar 

Seriusan? Kok lo nggak jenguk Aldi?”  – Fatma Nur Dewi 

Dia koma, kecelakaan empat hari yang lalu di deket KalCit‘ – Fatma Nur Dewi 

APA? ASTAGA… DI MANA RUMAH SAKITNYA?’ – Vira Yanuar 

SANTAI DONG! Makanya gue nanya sama lo, kirain udah putus. Gue lupa nama rumah sakitnya, yang jelas patokannya di dekat jalan gede Duren Tiga.’ – Fatma Nur Dewi 

Okay, makasih infonya, Fat. Gue ke sana sekarang juga.’- Vira Yanuar 

Vira memasukkan ponselnya dengan asal ke dalam tas selempang kecilnya, membuka pintu rumahnya dengan kasar, lalu berlari ke pinggir jalan di depan rumahnya untuk mencegat taksi.








***