Kedua kaki Vira yang dibalut sepatu flat hitam melangkah terburu-buru memasuki rumah sakit setelah menyerahkan selembar uang lima puluh ribu untuk membayar argo taksi yang mengantarnya ke rumah sakit di daerah Pasar Minggu ini. Sesampainya di meja resepsionis, Sina bertanya di mana letak kamar Aldi kepada salah satu suster perempuan yang berjaga. Sesudah menyebutkan nama lengkap Aldi, Vira langsung melangkah lagi dengan setengah berlari menuju kamar Aldi yang terletak di ruang ICU.
Vira tiba di depan kamar Aldi dengan napas terengah-engah. Jantungnya berdebar kencang bukan main. Rasa bersalah, takut, khawatir, panik dan perasaan negatif lainnya bercampur menjadi satu. Gadis itu mencoba untuk menenangkan diri terlebih dahulu sebelum membuka pintu kamar Aldi. Namun ia tidak dapat menahan air matanya yang sudah turun deras menempel di pipinya. Vira terisak hebat hingga jatuh terduduk di lantai. Suasana sekitar ruangan sunyi, hanya udara dingin dengan bau obat menyengat yang menyambut kedatangannya.
Setelah dirasa sedikit tenang, Vira membuka gagang pintu kamar Aldi pelan-pelan dan memasukinya dengan hati-hati. Ketika di dalam, Vira melihat Bu Mila sedang tertidur di samping…, Vira hampir pingsan melihat sekujur tubuh Aldi terilit perban. Hatinya luluhlantak seketika mengetahui keadaan Aldi yang mengenaskan. Tubuhnya Vira hebat hingga ia harus berpegangan pada dinding kamar sebelum keseimbangan tubuhnya goyah. Tangisannya meledak hebat dari balik telapak tangannya yang menutupi wajah, hingga membuat Bu Mila terbangun.
“Vira?” tanya Bu Mila sambil mengerjapkan mata dan berdiri.
“I…, iya Tante…” Suara Vira terdengar tidak jelas tertutupi isakan tangisnya.
“Sini…, sini…, tenangin diri kamu dulu yuk di belakang,” ajak Bu Mila sambil merangkul Vira yang masih menangis.
Di belakang kamar Aldi, ada sebuah ruangan kecil yang terdapat sofa berukuran cukup besar berwarna cokelat, meja kayu di depannya, dan sebuah tempat tidur kecil dilengkapi satu bantal. Ruangan itu dipisahkan oleh dinding kaca yang berfungsi untuk mengedapkan suara pengunjung yang berbicara. Bu Mila dan Vira duduk di sofa itu bersampingan, dan mengusap punggung Vira dengan lembut agar gadis itu merasa tenang.
Isakan Vira mulai surut, ia mengusap wajahnya yang sembab dengan tisu yang tersedia di meja. Sambil melihat Aldi dari balik kaca, Aldi berkata, “Tante, Aldi kenapa?”
Bu Mila menarik napas panjang, lalu menggenggam tangan Vira. “Dia kecelakaan, ditabrak mobil pick up seminggu yang lalu, Vira. Beberapa tulang rusuk dan kaki kirinya patah serta mengalami pendarahan di beberapa bagian tubuhnya.”
“Kok bi…sa? Astagfirullah…” Vira memeluk erat Bu Mila sambil meraung pelan.
“Kita ndak pernah tau kapan musibah terjadi. Seinget tante, sebelum kecelakaan, dia pergi ke rumah kamu bawa bekal makan siang,” jelas Bu Mila, ia berusaha setenang mungkin menjelaskannya.
“…”
Sina menggelengkan kepala dengan keras mendengar penjelasan Bu Mila. Gadis itu menangis lagi, jauh lebih hebat dari sebelumnya. Ia merasakan rasa sakit yang teramat sangat menghujam hatinya bertubi-tubi. Vira merasa musibah ini terjadi akibat perbuatannya yang bodoh. Bersenang-senang dengan temannya hingga lupa mengabari kekasihnya berhari-hari, dan yang paling parah pergi bersama Daniel, yang jelas-jelas gelagatnya ingin menguasai hatinya.
Semua karena Vira menuruti egonya. Jelas, keinginan Aldi sederhana; hanya menginginkan kabar darinya. Aldi hanya ingin komunikasi yang baik dengan dirinya saat sedang tidak bersama. Tidak lebih dari itu. Semudah itu ia menghancurkan kepercayaan Aldi? Vira merasa tolol sekali.
Pandangan mata Vira memburam karena air matanya tidak berhenti turun. Ia melihat Aldi dari balik kaca ruangan ini. Pasti ia merasa sangat menderita dengan rasa sakitnya.
“Sabar, ya Vira. Aldi pasti sembuh kok,” ucap Bu Mila sambil terus mengusap punggung Vira.
“Aldi sempat siuman dan saat itu bilang ke tante, dia titip salam sama kamu ketika kamu ke sini. Aldi juga menulis sesuatu, tante ndak ngerti itu apa, dan ia pun menyembunyikannya.”
“Al…, Aldi bilang apa tante?”
“Dia sayang banget sama kamu, maaf kalau dia bikin kamu kesal. Dia juga minta maaf karena tidak bisa mengantar bekal makan siang buat kamu pada hari itu.” Bu Mila menjelaskannya dengan suara bergetar. Ia pun akhirnya tidak dapat menahan tangisnya.
“Aldi sayang banget sama kamu, Vira.”
“Aldi nggak bisa tidur ketika kamu nggak ngabarin dia, Vira. Dia minta diajarin masak sampai tangannya berkali-kali kena pisau saat memotong dan terciprat minyak panas. Dia bangun pagi nemenin tante belanja dan ternyata masakan yang dia buat itu untuk kamu.” Bu Mila menarik napas panjang sambil memeluk Vira.
Vira mendengar penjelasan itu dengan kalut. Napasnya sesak, rasanya ia lupa cara bernapas. Dadanya bagai terhimpit batu raksasa. Potongan demi potongan kenangan berkelebatan di ingatannya. Ketika Aldi mengantar Vira pulang ke rumahnya dari kampus saat hujan deras dengan satu jas yang Sina gunakan. Saat Aldi datang menemui Vira di kampusnya secara tiba-tiba sambil membawa seikat bunga setiap kali moodnya sedang rusak. Ketika Aldi pagi-pagi buta datang ke rumahnya hanya untuk mengantarkan sebuah boneka Tedy Bear sebagai hadiah hari jadi yang kedua bulan. Hal-hal kecil lainnya yang Aldi lakukan serta berikan untuk Vira. Semuanya karena Aldi begitu mencintainya.
Tidak dapat terbantahkan lagi, Vira mengamuki kebodohannya dan benar-benar menyesali perbuatannya telah menyia-nyiakan cinta Aldi yang begitu besar, lalu malah mengkhianatinya.
Akhirnya, setelah sama-sama lelah menangis, Vira meminta maaf kepada Bu Mila karena telah mendiamkan Aldi. Saat mereka berpelukan, tiba-tiba saja sebuah lampu merah di dinding berkedip. Bu Mila langsung melepas pelukannya dan menghampiri Aldi, lalu memencet tombol pemanggil dokter yang terdapat di samping tempat tidur anaknya.
Vira menutup wajahnya saat melihat detak jantung Aldi yang melemah di sebuah monitor. Garis naik turun yang terpampang di layar semakin rendah. Vira langsung menggenggam tangan Aldi sambil berdoa. Beberapa saat kemudian seorang dokter pria dan dua suster wanita masuk ke dalam kamar Aldi. Sekali lagi, perasaan Vira dibuat hancur ketika melihat mendapati wajah Aldi menjadi pucat. Vira kalap dan terisak hebat memanggil Aldi berkali-kali.
Ketika dokter menggosok sepasang alat kejut jantung berbentuk seperti setrika dan meletakkan ke dada Aldi, samar-samar terlihat mata Aldi mengeluarkan air mata. Vira jelas melihatnya. Kemudian terdengar bunyi yang memekakkan telinga dari alat itu, yang kemudian mencabik habis hati Vira. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Vira merasakan sakit yang begitu luar biasa hebat, membuatnya merasakan mati dalam keadaan hidup. Bola matanya yang mulai lelah menangis seolah ingin membutakan diri karena tidak kuat melihat apa yang terjadi di hadapannya.
Dua suster yang berdiri di samping dokter kemudian mengusap punggung Vira dan Bu Mila, menguatkan mereka berdua untuk menghadapi kemungkinan yang paling terburuk terjadi dalam hitungan mundur. Setelah itu, berbagai alat kedokteran seperti selang dan jarum satu per satu mulai dijejali ke tubuh Firas demi membuat nyawanya tetap pada raganya. Vira menggenggam tangan Aldi dengan kencang. Entah kenapa ia merasakan ada cengkraman kuat dari tangan Aldi yang sedang ia genggam. Seolah-olah, kekasihnya itu tidak ingin meninggalkan Vira.
Namun takdir berkata lain, mulut Vira yang terus menerus memanggil nama Aldi dan mengiba pada rapalan doa tidak bisa membuat takdir berbelas kasih. Suara Vira yang semakin lirih terdengar melacurkan harapannya yang terus meminta kepada Tuhan agar Aldi diberi kesempatan untuk hidup lebih lama. Agar Vira sempat mengucapkan permintaan maafnya. Agar Vira dapat menjelaskan betapa ia mencintai Aldi.
Tetapi semua yang Vira lakukan tetap melahirkan kenyataan yang lain. Dokter yang sudah berusaha semaksimal mungkin pun ternyata tidak dapat mengubah keinginan Tuhan. Ia menundukkan kepala dan menyeka air matanya, kemudian meminta maaf kepada Bu Mila dan Pak Isman yang baru saja datang, yang langsung menangis kencang sambil memegangi kaki Aldi.
Vira memeluk Aldi yang sudah pergi dengan tangisan tanpa suara. Gadis itu menggoyangkan tubuh Aldi, berharap dapat menarik kembali roh kekasihnya. Dan, ketika Vira sadar itu hal yang percuma, selembar foto terjatuh dari balik punggung Aldi ke lantai. Vira mengambil dan memeluk foto itu, foto yang mengabadikan senyum mereka berdua saat pertama kali berfoto bersama. Sejurus kemudian, seorang suster menarik selimut putih di ujung tempat tidur Aldi dan menutupi sekujurnya.
Tubuh Vira kehilangan keseimbangan dan semuanya berubah menjadi gelap.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar