Tangis pilu para pelayat terdengar menyayat hati siapapun yang mendengar. Dari belakang kerumunan, empat orang menggotong jasad Aldi menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Vira hanya terdiam. Hatinya sudah terlalu lelah untuk merasa sakit. Matanya terasa sangat perih hingga ia menggunakan kacamata hitam agar orang-orang tidak melihat kantung matanya yang bengkak.
Lantunan ayat-ayat suci bergema seirama mengiringi jasad Aldi yang dikebumikan. Vira ternyata tidak sanggup menahan kesedihan yang bertamu lagi ke dalam hatinya. Ia terisak di balik kacamatanya. Di antara para pelayat yang kebanyakan teman-teman Aldi dan keluarganya, Pak Isman terlihat merangkul Bu Mila yang menutupi setengah wajahnya dengan syal hitam.
Setengah jam kemudian, para pelayat satu per satu meninggalkan makam Aldi . Bu Mila dan Pak Isman pamit pulang kepada Vira, dan menyarankannya untuk segera pulang.
“Vira, tante dan om pulang duluan ya, ndak baik sedih-sedihan di sini,” ucap Bu Mila sambil menggenggam tangan Pak Isman, ayah Aldi itu hanya melihat Vira dengan tatapan kosong. Seakan separuh nyawanya telah hilang seiring kepergian Aldi selamanya.
Vira mengangguk. “Iya, tante, om, silakan. Saya juga nanti segera pulang ke rumah. Saya masih pengin di sini nemenin Aldi.”
Bu Mila dan Pa Isman tersenyum. Sebelum meninggalkan Sina, Bu Mila memeluk gadis itu terlebih dahulu. Dalam pelukannya, ia berbisik. “Terima kasih ya, Sayang. Kamu ada di saat-saat terakhirnya. Aldi pasti bahagia di sana.” Setelah Bu Mila melepas pelukannya, Sina mencium tangan Bu Mila. Kemudian Bu Mila dan Pak Isman melangkah pergi.
Vira mengambil air bunga mawar dan taburan bunga yang tersisa dari dalam tasnya ketika sosok Bu Mila dan Pak Isman telah masuk ke dalam mobil.
Perlahan-lahan, Vira menyiram makam Aldi yang masih basah dengan air bunga mawar dan menaburinya dengan bunga berbagai macam warna. Vira merasa lupa terhadap sesuatu, lalu terdiam sebentar. Foto. Foto itu. Vira merogoh kantung kecil di dalam tasnya dan menatap nanar foto itu, lalu berjongkok di samping batu nisan Firas. Batu nisan hitam persegi yang bertuliskan nama ‘Aldi Adi Ismana’ dengan warna kuning terang.
“Sayang, maafin kesalahan aku ya. Aku baru sadar satu hal, ternyata aku cinta banget sama kamu,” ucap Sina pelan seraya mengusap papan nama Firas dan menatap lagi foto yang ia pegang.
“Penyesalan memang datang belakangan ya, Sayang. Aku baru ngerasainnya sekarang. Kenapa ya aku bodoh banget malah nyia-nyiain kamu?” Sina tertawa hambar karena ucapannya sendiri, lalu tersenyum getir meratapi batu nisan Aldi.
“Oh iya, kamu udah sampai di surga belum, Sayang? Kalau masih di sekitar sini, peluk aku dong sekalian ndusel deh. Kamu kan belum pernah ndusel sama aku,” lanjut Vira, ia mulai terisak pelan.”Aku kangen kamu, Aldi. Kangen berada di pelukan kamu, denger ocehan kamu yang bikin aku geregetan. Kangen kecupan kening kamu yang nenangin. Kangen semua tentang kamu.”
“Tiga belas bunga yang kamu kasih aku simpen di kamar, tapi ada satu bunga yang paling indah kelopaknya, aku suka, dan itu aku laminating buat dijadiin pembatas buku. Soalnya kamu kan nggak suka sama angka tiga belas
.” Vira tersenyum lebar dan mengusap air mata di pipinya sejenak, “gapapa kan, Sayang? Kamu nggak marah kan?”
“Nanti kalau kamu udah di surga nggak akan ngelupain aku kan? Nggak kan?” Tubuh Vira bergetar hebat di tengah monolognya dan ia hampir jatuh duduk, “soalnya di surga kan banyak bidadari yang cantiknya lebih dari aku. Mereka pun nggak suka ngilang kayak aku, pasti setia sama kamu. Tapi aku percaya kok kamu nggak selingkuhin aku. Soalnya cukup aku aja yang bodoh, kamu jangan.”
Vira menarik napas dengan susah payah karena sesak di dadanya terasa sangat perih setelah mengucap kalimat itu, kepalanya juga terasa pusing sekali.
Kesadarannya lamat-lamat menghilang di antara udara dingin cuaca mendung. Kemudian Sina melepas kacamatanya dan mendekatkan wajah ke batu nisan Aldi. Vira mengecup permukaannya pelan sambil terpejam dan merapal doa, sangat lembut. Seolah mengucap kening Aldi untuk terakhir kalinya. Tetesan air mata Vira yang deras berselancar dari pipinya satu per satu jatuh tepat di atas tulisan nama Aldi.
“Aku cinta kamu, Aldi. Terima kasih telah sangat mencintaiku.”
-END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar