Ini bukan hanya sepasang mantan kekasih yang berbaur dengan ucapan dalam diam, lalu merangkai indah dalam keheningan yang ditawarkan oleh kerinduan. Terpaut jauh menemani kesendirian kita dalam pengharapan yang begitu bias. Kamulah penciptanya, pemegang peranan penting dalam kita yang terhalang dengan jarak.
Terkadang aku mengutuk rasa yang semestinya hadir pada sepasang yang saling menggenggam erat pada lekukan tangannya. Mengikrarkan janji bersama dengan hembusan nafas lalu memberikan suasana dimana hanya kita yang berada disana. Tetapi kita berbeda, hanya dengan satu persatu kata membuat kita menitikan do’a tanpa kita tahu siapa kita sebenarnya.
Apakah kita sama-sama bodoh? Menganggap semua wacana hidup yang ditawarkan semesta adalah takdir yang membawa kita menjadi sepasang kekasih?
Apakah kita sama-sama merindu saling mencinta? Menganggap semua yang kita rasakan adalah bulir-bulir yang kita sebut asmara? Jika iya, menolehlah sedikit kebelakang agar kau melihat aku, aku yang diam-diam merindukanmu...
Rasa kita seperti mengoyakan kertas menjadi serpihan-serpihan kecil, tertiup angin lalu berserakan tak menentu arah. Hilang bahkan mengendap dalam kikisan tanah. Membiarkan hati kecil kita menunggu untuk menyudahi penat dalam kepercayaan pada kata.
“Aku harus sabar, kita pasti akan bersama selamanya.”
Deretan kata yang ku sebut rapalan do’a membuatku sedikit demi sedikit
berdamai dengan hati. Membiarkan waktu terlena pada masa yang semestinya
membuat kita jauh, bukan membuat kita menghentikan cerita yang biasa. Bagaimana sebuah kata menjadi luar biasa? Semua karena kamu.
Kamu, adalah pesta dalam. pikiranku. Membuatku berteriak pada malam,
membiarkan menikmati kesendirian sampai pada akhirnya hanya kata-kata
yang menemani diam.
Biarkan jarak membunuh waktu—menghentikan lalu mempersatukan kita yang
memburu rindu. Sebab, cinta kita adalah pertanyaan, belum terjawab pada
waktu yang berbeda. Yang masih menunggu permainan selesai dan menunggu
kita berada di garis finish.
Kamu senyawa dalam pikiranku, membuat aku berulang-ulang memimpikan takdir mempersatukan kita. Tidak dengan jarak, tidak dengan kata-kata dan tidak ada alasan apapun yang menyudahi semua ketidakpastian ini.
Kamu senyawa dalam pikiranku, membuat aku berulang-ulang memimpikan takdir mempersatukan kita. Tidak dengan jarak, tidak dengan kata-kata dan tidak ada alasan apapun yang menyudahi semua ketidakpastian ini.
Teruntuk kamu; tepat berada di dalam hati. Membiarkan meniti kemufakatan rasa-pikiran-janji...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar