Sabtu, 21 Februari 2015

EVOLUTION ..

Entah harus kupanggil apa kamu kali ini. Aku hampir tidak bisa mengenalimu lagi.

Kamu selalu membingungkanku. Mengenai segala hal tentang bentuk, rasa, dan pelbagai definisi yang seringkali kau utarakan kepadaku. Kamu seperti berevolusi dengan cepat. Dinamis seperti air yang menjadi kabut, uap, salju, atau embun. Sangat sulit melacak perubahanmu dari waktu ke waktu.

Hari ini kamu adalah hujan. Besok kamu menjadi langit. Menjadi sungai. Menjadi batu. Belum lagi saat kau menjadi serigala saat berkelana di antara rimba. Kemudian menjadi belantara saat tiba-tiba kamu menyesatkan banyak kepala. Lalu menjadi langit saat kamu menyadarkan setiap orang —termasuk aku— bahwa kamu begitu luas dan tak tergapai, namun pelukmu membentang. Aku hampir tidak bisa mengenalimu lagi.

Masih saja kukutuk diriku saat mengingat, akulah yang menjadi penyebab segala yang terjadi padamu. Seandainya saat itu aku tak datang mengganggu tidurmu, membangunkan kesadaranmu, dan memulai pembicaraan yang pekat, lebih pekat dari kopi dan malam yang ikut meriung bersama kita saat itu. Aku mengutuk diriku sendiri saat mengajakmu berkenalan; Menanyakan siapa engkau, dari mana kau berasal, mau ke mana dan untuk tujuan apa; Dan tentu saja menanyakan segala urusanmu yang seharusnya tak perlu aku tau.

Aku juga menyesal saat kita mulai terpaut rasa; seperti remaja tanggung yang baru bertemu dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Hampir setiap malam kita berbincang mesra, bertukar cerita, lalu berandai-andai mengenai segala siratan makna. Hubungan kita menjadi tidak biasa dan sesederhana saat pertama kali kita saling bertanya.

Ini akibatnya. Semakin dekat, semakin larut, justru kita semakin tak bisa mengikat diri satu sama lain dengan deskripsi. Sementara, kita saling butuh menukar afirmasi. Kita tak lagi bisa mengurai sosok satu sama lain. Kita tak bisa lagi saling melabelkan satu sama lain. Mungkin, kita sama-sama tersesat dalam rimba eksistensi dan esensi yang bersama-sama kita jelajahi.

Kini kau menamai dirimu pencari, dan aku musafir yang kau bawa serta. Meski kita hampir sama-sama tak bisa mengenal, namun rasa masih terlalu akrab. Kita sama-sama mencari serpihan yang kita harapkan bisa menjadikan kita utuh, satu, dan sejati. Dan dalam kelelahan kita yang amat sangat, yang ingin aku sampaikan hanya satu kalimat: “Kita masih manusia.”

Semoga kita bisa segera saling mengenali lagi, lalu bersama-sama pulang dengan membawa kesejatian.

Salam sayang.
Dari aku yang juga dirimu sendiri.

Sabtu, 14 Februari 2015

Percaya atau tidak, sudah jelas saya tidak percaya.



Assalamuallaikum. 
Saya dengar; katanya, Bulan ini adalah bulan yang penuh cinta dan kasih sayang? Iya? Maaf, tapi saya tidak. Cinta dan kasih sayang yang saya punya itu untuk selamanya.

Bulan ini adalah bulan Februari, bagi kalangan anak muda zaman sekarang adalah hari yang penuh cinta dan kasih sayang. Berarti cinta dan kasih sayang yang penuh hanya ada di bulan ini? Tentu tidak. Kasih sayang yang penuh itu ada di setiap harinya, dengan rasa yang tulus dan putih. 

Kasih sayang yang penuh itu ada didalam diri kita masing-masing, bukan hanya ada di dalam bulan ini. Bagi saya bulan ini adalah bulan yang sama seperti bulan-bulan yang lainnya, mungkin saja hanya penanggapannya yang berbeda.

Percaya atau tidak, sudah jelas saya tidak percaya. Karena bagi saya, cinta dan kasih sayang yang penuh itu berjalan dengan sendirinya tanpa ada batasan jarak untuk di tempuh.  Bukan hanya ada di dalam bulan ini. Berarti cinta dan kasih sayang kalian yang penuh itu hanya ada di bulan Februari dong? 

Tulisan ini bukan berarti saya iri dengan kalian yang masih saja mengikuti perkembangan zaman, hanya saja saya tidak pernah mau mempercayai Hari Valentine. Saya mencintai kekasih saya tidak hanya untuk hari ini, saya mencintai ia di hari kemarin, sekarang, esok, dan bahkan seterusnya.

Gaes, bukannya saya sok tahu atau apa, saya cuma ingin memberitahukan kepada kalian semua; Cinta dan kasih sayang yang penuh itu selalu berjalan dengan seiringnya waktu. Tanpa ada batasan apapun.
Kalau memang kalian percaya adanya hari Valentine, silahkan. Itu hak kalian. Tapi, jika kalian bertanya kepada saya ' apa anda percaya dengan hari Valentine? '  Dengan sangat jelas saya menjawab; 

' I did not believe it, but that does not mean I do not, resepect with guys who really believe. '

Sepertinya jam menulis saya sudah hampir habis, jika ada kesalahn dalam kata-kata ini, tolong dimaafkan.


Teruntukmu, kekasih hati.
Percayalah, aku mempunyai cinta dan kasih sayang
Yang penuh tidak hanya untuk dihari ini. Namun seterusnya.

Selasa, 10 Februari 2015

Stay With Me ....



Pagi kemarin aku bangun dengan mata sembab. Air mata sisa menangis malamnya (sampai subuh lebih tepatnya) masih terasa di ujung mata. Bersamaan dengan itu, sebuah denting tanda ada pesan masuk di whatsapp membuatku meraba-raba bagian bawah bantal, tempat di mana biasanya ponselku berada.

"Sudah bangun?"

Ternyata pesan itu darimu. Kamu yang menjadi penyebab mataku sembab. Pertengkaran kita pada malam harinya yang berhasil memecah tangisku dengan hebat. Rasanya sudah tak terhingga jumlah pertengkaran yang pernah terjadi di antara kita. Mulai dari hal-hal sepele sampai dengan hal-hal serius (atau hal-hal sepele yang kemudian berubah menjadi hal-hal serius?)

Namun setiap pertengkaran itu belum pernah membuat kita benar-benar berpisah. Meskipun gertakan-gertakan bernada "kita putus saja" itu selalu ada.
Aku tau bahwa kamu mempertahankanku. Aku pun begitu. Sekesal atau semarah apapun aku, sulit sekali membuat keputusan untuk meninggalkanmu. Aku hanya takut menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan. Aku hanya takut melewatkan sesuatu yang tidak akan pernah datang dua kali. Aku hanya takut kehilangan kamu yang sampai saat ini masih menjadi yang terbaik yang pernah kumiliki.

Jujur, kadang aku takut dengan perasaanku sendiri. Perasaanku yang semakin hari semakin dalam padamu. Apa kamu merasakan ketakutan yang serupa? Seandainya saja aku bisa mengatur berapa kadar rasa yang harus kuberikan padamu dan berapa yang harus kusimpan untuk nanti ketika ternyata jalan kita berbeda. Tapi apa daya, aku sungguh tidak bisa memisah-misah perasaan yang kupunya.

Tiga bulan adalah waktu yang sudah kita lalui. Aku masih setengah takjub tiap mengingat fakta bahwa kita masih bersama dalam jangka waktu lebih dari sembilan puluh hari. Tentu saja itu bukan waktu yang singkat, apalagi dengan situasi dan kondisi yang kita jalani. Jadi, bolehkah aku berbangga dengan hal ini? Bangga dengan kita yang tidak menyerah. Bangga dengan kemampuan kita untuk saling mempertahankan.

Oh iya, ngomong-ngomong, apa kamu masih ingat tentang apa yang dulu sempat kutanyakan, "Sampai kapan permainan ini akan kita mainkan?". Lalu, kamu menjawab, "Sampai kita tidak bisa lagi mengatasi rasa bosan". Kamu tau bahwa sampai saat ini aku belum bosan dan kuharap kamu pun begitu.

Tetaplah bermain bersamaku, jangan lelah untuk berada di sisiku, sampai Tuhan yang memutuskan bahwa kita tidak mungkin bersatu.




Salam.
Dari seseorang yang pencemburu.

Sabtu, 07 Februari 2015

Tuhan, Tolong Sampaikan Surat Ini Untuk Bapak diSurga.



Halo bapak, bagaimana rasanya hidup abadi? Pasti bapak sangat bahagia di sana. Tidak ada luka, tidak ada resah, tidak ada kehawatiran hidup.

Kami merindukan bapak. Aku, mama, dan abang-kakak. Kadang kami lupa dengan bapak karena hidup ini selalu penuh tantangan untuk kami. Kadang, kami teringat tentang bapak dan kami langsung mengirimkan doa.

Oh ya, Bapak tahu gak? Semua orang yang aku kenal dan melihat bapak pasti bilang bapak ganteng, gendut, kuat, galak dan menarik, teman-temanku apalagi. Mata bapak yang cokelat ditambah hidung bapak yang mancung. Bapak sering dipuji meski bapak sudah tidak ada bersama kami.


Aku ingat dulu kita pernah membuat kaca pembesar dari bohlam lampu bekas. Itu sewaktu aku SD kelas 3. Aku juga ingat ketika aku dibelikan sepeda oleh bapak waktu menjelang ulangan di kelas 3 juga, entah alasannya apa. Juga dulu waktu piala dunia tahun 2002. Semua televisi kita di rumah rusak dan kita berdua sangat gelisah karena tidak bisa menonton piala dunia. Kita duduk berdua di ruang tamu.


Tiba-tiba kita saling berpandangan, seperti telepati, kita berdua langsung pergi ke pasar dan membeli televisi. Dulu juga waktu 17an di RT kita, bapak adalah Pak RT sejati. Karena setiap pemilihan pasti bapak yang menjadi Pak RT. Entahlah mengapa bapak begitu dicintai. Tapi, aku menjadi dilema ketika menang lomba di 17an. Merasa aneh jika hadiahnya diserahkan Pak RT yang notabene bapak sendiri. Gara-gara bapak juga sih masa kecil aku bahagia sekali.


Karena bapak tahu kalau anak bapak ini agak sedikit nakal dan tidak pernah melarang main ini itu. Luka pun bapak tidak risau kecuali waktu aku kecelakaan di jalan raya dengan sepeda motor. Karena bapak yang mengajarkan aku mengendarai motor dan bapak takut dimarahi umi. Malah kalau tidak kecelakaan bapak akan membelikan aku motor gede seperti kakak yang ke sekolah pakai RX King. Bapak luar biasa sih nekatnya. :D

Aku bahagia sekali mempunyai bapak yang keren dan pastinya pintar luar biasa. Tapi, kami anak-anak bapak tak ada yang sepintar bapak. Bapak tahu segalanya, bahkan bapak bisa ingat apapun yang bapak pelajari. Bapak bisa belajar dengan cepat dan kami sebagai anak bapak merasa malu. Bapak sangat maklum dengan kami yang nakal bahkan bapak sudah khatam dipanggil guru ke sekolah. Dari abang pertama sampai aku si anak bontot adalah anak yang ceria dan sangking cerianya kami jadi nakal. Untungnya, nilai kami lumayan. Aku selalu ingat pesan bapak, untuk sekolah tinggi dan jadilah anak yang punya pemikiran ke depan.

Bapak juga adalah orang yang baik yang aku tahu. Bapak selalu sayang anak-anak bapak. Kami juga bangga sih punya bapak seperti bapak. Ah beruntung sekali umi punya pedamping hidup sempurna.

Bapak hari ini berulang tahun, tanggal 7 Februari. Seharusnya jika masih hidup, bapak sudah berusia 63 tahun. Sejujurnya aku suka salah mengingat tahun kematian bapak atau tanggalny. Tapi, aku selalu ingat hari ulang tahun bapak. Ada yang bilang tidak semestinya mengucapkan ulang tahun kepada orang yang sudah meninggal. Ada yang bilang ucapkan saja jika ingin mengucapkan. Aku tak perduli dengan orang yang melarang aku mengucapkan selamat ulang tahun kepada bapak.



Untukku, bapak masih hidup hanya berbeda dunia, bapak hidup abadi sekarang. Selamat ulang tahun bapak. Di dalam hatiku aku masih berharap bapak bisa melihatku sekarang. Aku sudah lulus SMA, bisa bahasa Inggris, sudah mempunyai perkerjaan yang membuatku bahagia. Itu kan cita-cita bapak kepadaku? Aku sudah menjalankan yang aku janjikan di hadapan peti mati bapak waktu itu. Dimana semua orang tidur dan tinggal kita berdua di ruang tamu, walaupun bapak sudah kaku tapi aku tahu bapak di situ. Bapak yang tesenyum mendengar janjiku untuk bapak. Bapak malah mengajakku berbicara karena bapak tahu aku bisa melihat bapak.

Sekali lagi selamat ulang tahun pak. Tuhan pasti menyampaikan doaku untukmu. Aku selalu menyanyangimu. Sampai bertemu di keabadian yang membolehkan kita besama lagi. Apakah di sana bapak masih baca buku? Tolong pak jangan terlalu pintar. Oh iya, Jerman juara piala dunia 2014 pak!




Surat dari anak bontot bapak yang selalu mendoakan bapak.

Teruntukmu Umi, Penghuni Surga :')




Selamat pagi, Umi.
Andai bisa kuungkap padamu betapa bersyukurnya aku bisa melihatmu setiap pagi.
Maaf jika terkadang aku tak keluar dari kamarku untuk membantumu.
Anakmu ini memang pemalas, hehe.

Selamat siang, Umi.
Ahh~ kau sedang menyiapkan makan siang untuk Kita keluarga yang sederhana ini.
Di meja makan sederhana, di depan televisi, sangat beruntung untuk bisa makan bersama semeja dengan kalian. Maaf jika terkadang aku tidak bisa bergabung.
Maaf jika aku malah makan masakan orang lain di luar.
Bagaimanapun, tahu goreng buatanmu adalah yang terbaik :)

Selamat sore, Umi.
Sangat lega ketika tahu kau pulang ke rumah dengan selamat.
Bagaimana kedaan toko hari ini?
Apakah ada yang membayar hutang?
Ataukah malah ada yang ingin berhutang?
Ah~ terlihat senyum di raut wajah lelahmu, pasti kau mendapat rejeki ya hari ini?
Aku senang. Bukan, bukan, bukan karena uang yang kau dapat. Tapi karena aku bisa melihat senyumanmu, aku tak berbohong lho!! Meski aku tak pernah mengungkapnya, wajah tersenyummu adalah hal paling bahagia dalam hidupku.

Selamat malam, Umi.
Jika tadi kubilang bahwa hal paling membahagiakan bagiku adalah senyumanmu,
Maka hal yang paling menyakitkan adalah sakitmu, tangismu, wajah sedihmu.
Sungguh, tak pernah bisa kutahanair mata saat melihat kau menahan sakit akibat penyakitmu yang kambuh di suatu malam.
Mungkin memang aku hanya menunggu di sampingmu tanpa berkata apapun.
Tapi, itu hanyalah agar suara bergetarku yang setengah mati menahan tangis tak terdengar olehmu.

Berkali-kali dalam hati ku berdoa, "Ya tuhan, jauhkan sakit itu, jauhkan pedih itu, kumohon biarkan ibuku tidur nyenyak. Lihatlah wajahnya, dia kelelahan. Kumohon jauhkan sakit itu"

Umi, ingat saat kuberikan kau Kue di hari Ibu tahun kemarin? Sungguh seperti ingin kencan pertama.
Takut, malu, ragu, bercampur aduk! Karena aku tak pernah memberimu apa-apa sebelumnya di hari Ibu sebelum-sebelumnya, kau hanya melihat layar televisi yang sedang menayangkan adegan anak mengucapkan hari ibu ke ibunya. Aku tahu kau menatapnya, aku tahu mungkin kau ingin setidaknya mendapat ucapan itu.

Maafkan anakmu yang nakal ini, yang terlalu pengecut dan malu untuk mengucapkannya.
Hingga akhirnya kuputuskan untuk memberimu sebuah kue, dan kuucapkan "Selamat Hari Ibu" Jika kau cukup teliti, saat itu suaraku bergetar memandangmu begitu senang saat kuberi kue sederhana itu. Bukan kau yang menjadi paling bahagia. Tapi aku! Ah~ aku bertindak seolah aku adalah anak yang sangat mencintaimu, tapi memang begitu. Dan kurasa setiap anak di dunia pun begitu.
 




Umi, Berbaiklah.
Aku sangat dan amat mencintaimu.