Pagi kemarin
aku bangun dengan mata sembab. Air mata sisa menangis malamnya (sampai subuh
lebih tepatnya) masih terasa di ujung mata. Bersamaan dengan itu, sebuah
denting tanda ada pesan masuk di whatsapp membuatku meraba-raba bagian
bawah bantal, tempat di mana biasanya ponselku berada.
"Sudah
bangun?"
Ternyata
pesan itu darimu. Kamu yang menjadi penyebab mataku sembab. Pertengkaran kita
pada malam harinya yang berhasil memecah tangisku dengan hebat. Rasanya sudah
tak terhingga jumlah pertengkaran yang pernah terjadi di antara kita. Mulai
dari hal-hal sepele sampai dengan hal-hal serius (atau hal-hal sepele yang
kemudian berubah menjadi hal-hal serius?)
Namun setiap
pertengkaran itu belum pernah membuat kita benar-benar berpisah. Meskipun
gertakan-gertakan bernada "kita putus saja" itu selalu ada.
Aku tau
bahwa kamu mempertahankanku. Aku pun begitu. Sekesal atau semarah apapun aku,
sulit sekali membuat keputusan untuk meninggalkanmu. Aku hanya takut menyesal
karena menyia-nyiakan kesempatan. Aku hanya takut melewatkan sesuatu yang tidak
akan pernah datang dua kali. Aku hanya takut kehilangan kamu yang sampai saat
ini masih menjadi yang terbaik yang pernah kumiliki.
Jujur,
kadang aku takut dengan perasaanku sendiri. Perasaanku yang semakin hari
semakin dalam padamu. Apa kamu merasakan ketakutan yang serupa? Seandainya saja
aku bisa mengatur berapa kadar rasa yang harus kuberikan padamu dan berapa yang
harus kusimpan untuk nanti ketika ternyata jalan kita berbeda. Tapi apa daya,
aku sungguh tidak bisa memisah-misah perasaan yang kupunya.
Tiga bulan
adalah waktu yang sudah kita lalui. Aku masih setengah takjub tiap mengingat
fakta bahwa kita masih bersama dalam jangka waktu lebih dari sembilan puluh
hari. Tentu saja itu bukan waktu yang singkat, apalagi dengan situasi dan
kondisi yang kita jalani. Jadi, bolehkah aku berbangga dengan hal ini? Bangga
dengan kita yang tidak menyerah. Bangga dengan kemampuan kita untuk saling
mempertahankan.
Oh iya,
ngomong-ngomong, apa kamu masih ingat tentang apa yang dulu sempat kutanyakan,
"Sampai kapan permainan ini akan kita mainkan?". Lalu, kamu menjawab,
"Sampai kita tidak bisa lagi mengatasi rasa bosan". Kamu tau bahwa
sampai saat ini aku belum bosan dan kuharap kamu pun begitu.
Tetaplah
bermain bersamaku, jangan lelah untuk berada di sisiku, sampai Tuhan yang
memutuskan bahwa kita tidak mungkin bersatu.
Salam.
Dari seseorang
yang pencemburu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar